Categories
Tak Berkategori

Meningkatkan Keaktifan Peserta Didik dalam Pembelajaran Kelompok Menggunakan Model Pembelajaran PBL Dengan Metode Diskusi dan Game pada Materi Konsep Makna Tata Rias dan Busana pada Tari Tradisional di SMA Telkom Bandung

JURNAL SENI TARI

Meningkatkan Keaktifan Peserta Didik dalam Pembelajaran Kelompok Menggunakan Model Pembelajaran PBL Dengan Metode Diskusi dan Game pada Materi Konsep Makna Tata Rias dan Busana pada Tari Tradisional di SMA Telkom Bandung

Oleh

Novita Alviani

[email protected]

Guru Seni Budaya

SMA Telkom Bandung

2023

Abstrak

Permasalahan yang terjadi di SMA Telkom Bandung adalah beberapa peserta didik kurang aktif dalam pembelajaran kelompok dikarenakan peserta didik tidak menguasai materi dan tidak memahami manfaatnya dalam kehidupan, juga guru yang belum menerapkan model pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan. Model Pembelajaran Project Based Learning (PBL) merupakan sebuah strategi pembelajaran inovatif yang diterapkan oleh guru seni tari di SMA Telkom Bandung. Inovasi dalam proses pembelajaran perlu di kembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik agar sesuai dengan tujuan dan capaian pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan bagaimana cara meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran kelompok menggunakan model pembelajaran PBL dengan metode diskusi dan game pada materi konsep makna tata rias dan busana pada tari tradisional di SMA Telkom Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptifkualitatif dengan pendekatan education in art. Menggunakan langkah-langkah pada sintaks PBL yang dikembangkan, maka diperoleh hasil bahwa proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran PBL dengan metode yang terpilih dapat berhasil dan mencapai tujuan pembelajaran.

Kata Kunci : Keaktifan, Pembelajaran Kelompok, Model Pembelajaran, PBL (Problem Based Learning), Metode Diskusi, Metode Game. Konsep, Tata Rias, Busana, Tari Tradisional

  1. Pendahuluan
  2. Latar Belakang

Seni Tari merupakan cabang seni yang menggunakan gerak sebagai media utamanya. Abdurachman (1979:51) dalam Yuliana Kristiati (2015) mengemukakan bahwa“Pelajaran seni tari merupakan pembelajaran yang memerlukan aktivitas fisik, penghayatan, dan perasaan dibandingkan pelajaran lainnya. Pada pelajaran seni tari siswa tidak hanya diberikan praktek menari saja, namun juga diberikan teori-teori tentang seni tari yang menunjang pelajaran praktek. Dalam hal ini peran guru sangat diperlukan dalam pembagian materi antara praktek dan teori supaya siswa dalam menerima pelajaran tidak menjadi cepat bosan. Penyampaian bahan teori dalam bentuk tulisan yang didiktekan memungkinkan yang ditulis siswa belum tentu dimengerti. Siswa akan lebih faham tentang materi yang disampaikan jika guru menerangkannya dengan contoh visual, praktek, gambar, maupun contoh pengalaman siswa”. Maka dalam pembelajaran ini peserta didik diharapkan dapat memahami materi yang berhubungan dengan gerakan, termasuk didalamnya mengenal dan mempraktekkan tari. Pada tingkat sekolah menengah atas, mata pelajaran ini dirasakan cukup sulit bagi beberapa peserta didik, karena peserta didik dituntut selain dapat memahami materi, juga dapat mempraktikkan gerak tari.

Adapun salah satu permasalahan yang sedang dihadapi dalam dunia pendidikan khususnya di sekolah yang ada di Indonesia. Dalam hal ini di SMA Telkom Bandung pun ditemukan kurangnya keaktifan peserta didik dalam pembelajaran kelompok pada materi konsep makna tata rias dan busana pada tari tradisional, terlihat pada saat proses belajar mengajar yang terjadi di sekolah. Kurangnya keaktifan peserta didik pada proses pembelajaran biasanya disebabkan oleh proses yang dilakukannya dalam suatu pembelajaran kurang efektif. Sanjaya (2006: 3) mengemukakan bahwa “seorang guru memiliki pengaruh yang besar di dalam sebuah proses pendidikan”. Hal tersebut saling berkaitan dengan betapa berartinya menjadi seorang guru yang merupakan kunci dari keberhasilan di dalam sebuah pendidikan.

Kondisi yang melatarbelakangi beberapa peserta didik kurang aktif dalam pembelajaran kelompok, diantaranya peserta didik tidak menguasai materi tentang konsep makna tata rias dan busana pada tari tradisional  dan tidak memahami manfaat dari pembelajaran dalam kehidupan, dilihat dari pengerjaan LKPD yang kurang tepat, kemudian guru belum menggunakan model pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan, sehingga peserta didik kurang bersemangat dan kurang termotivasi dalam mengikuti pembelajaran terlihat dari penilaian sikap, bahwa beberapa peserta didik yang memiliki nilai dibawah KKM.  Selain itu guru belum memberikan materi dengan baik sehingga peserta didik kurang mengerti tentang materi yang dipelajari. Juga pada pembelajaran secara berkelompok terkadang peserta didik menganggap bahwa mereka tidak lebih baik dari temannya dalam mengerjakan penugasan, menganggap temannya yang lebih pintar dapat menyelesaikan tugas kelompoknya. Sementara guru belum memberikan feedback yang baik kepada peserta didik yang aktif maupun tidak aktif. Ufriani (2018) mengemukakan bahwa “Guru harus memberikan motivasi dan pancingan agar siswa mau berpendapat atau bertanya”.

Berdasarkan kajian diatas, maka penulis tertarik untuk menulis bagaimana cara meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran kelompok pada materi konsep makna tata rias dan busana pada tari tradisional dan kemudian membagikan pengalamannya. Dengan membagikan pengalaman praktik mengajar kepada orang lain terutama kepada rekan sesama tenaga pendidik diharapkan dapat menjadi sumber informasi dalam pembelajaran inovatif seni tari tentang konsep makna tata rias dan busana pada tari tradisional dan menambah referensi dalam pengajaran. Selain itu diharapkan juga praktik ini dapat menjadi refleksi untuk diri saya dalam menyampaikan pembelajaran, agar dapat lebih memotivasi peserta didik untuk belajar dan membuat peserta didik lebih aktif lagi dalam belajar.

Adapun yang menjadi peran dan tanggung jawab guru dalam praktik ini adalah sebagai guru harus dapat mengidentifikasi tentang permasalahan yang terjadi selama proses belajar mengajar di kelas dan mencari solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kemudian guru membuat rencana aksi dan rencana evaluasi. Berikutnya membuat modul ajar sesuai dengan (Capaian Pembelajaran) CP, tujuan pembelajaran dan sintaks pada model pembelajaran. Disini guru menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan metode pembelajaran ceramah, diskusi, presentasi dan game menjodohkanGuru membuat media pembelajaran, disini menggunakan media berupa video tata rias dan busana yang diambil melalui Youtube, presentasi PPT melalui media canva, dan potongan kertas berisikan gambar tari dan teks tentang ciri-ciri tata rias dan busana pada tari tradisional. Kemudian melaksanakan praktek pembelajaran, disini peran guru sebagai narasumber, fasilitator dan penilai pada proses pembelajaran. Guru bertanggung jawab untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik dan tujuan pembelajaran tercapai sebagaimana mestinya. 

  • Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari dibuatnya penelitian ini yaitu untuk mengetahui apa saja faktor penyebab beberapa peserta didik kurang aktif dalam pembelajaran kelompok pada materi konsep makna tata rias dan busana pada tari tradisional dilihat dari penilaian sikap pada saat diskusi dan mengetahui langkah/solusi yang dapat meningkatkan keaktifan peserta didik khususnya di SMA Telkom Bandung.

II. Metode Penelitian

Pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan education in art. Sugiyono (2014: 15) menjelaskan bahwa “penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowbaal, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi”.

Melalui pendekatan education in art, Alfa Kristanto (2017)memberikan pemahaman bahwaarti pendidikan seni adalah pendidikan melalui seni atau seni sebagai media didalam pendidikan”. Pada penelitian ini aktivitas yang dilaksanakan berhubungan dengan seni didalamnya, maka penulis menggunakan pendekatan ini. Kusumastuti (2014) berpendapat bahwa “pembelajaran seni budaya di sekolah formal tidak menuntut peserta didik untuk menjadi ahli dalam bidang seni melainkan tujuan dari pendidikan seni di sekolah yaitu lebih kepada apresiasi dan ekpresi kepada peserta didik”. Karena kesesuaian dengan penelitian yang akan ditindaklanjuti dengan ini maka penulis menggunakan metode penelitian ini untuk dapat mencapai tujuan penelitian.

III. Pembahasan dan Hasil

Yuliana Kristiati (2015) berpendapat bahwa “Dalam proses belajar ada 4 model kategori kondisi motivasional yang harus diperhatikan guru agar proses pembelajaran yang dilakukannya menarik, bermakna, dan memberi tantangan pada siswa, keempat kondisi tersebut adalah attention (perhatian), relevance (relevansi), confidence (kepercayaan diri), dan satisfaction (kepuasan)”.

Adapun yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan peningkatan keaktifan peserta didik  dalam pembelajaran kelompok pada materi konsep makna tata rias dan busana pada tari tradisional yaitu guru harus bisa memberikan pemahaman terhadap peserta didik bahwa materi yang dipelajari tentan konsep makna tata rias dan busana pada tari tradisional memiliki manfaat dalam kehidupan, sehingga peserta didik akan lebih bersemangat mengikuti pembelajaran dan menyadari bahwa pembelajaran yang dilakukan saat ini penting untuk bekal nya di masa depan. Kemudian kurangnya keaktifan siswa dalam merespons guru dan temannya dan berdiskusi dalam kelompok dilihat dari penilaian sikap masih ada yang mendapatkan nilai dibawah KKM yang disebabkan oleh guru yang menyajikan materi secara monoton, misalnya masih menggunakan metode ceramah, sehingga guru dirasa perlu untuk menentukan model pembelajaran yang berinovasi dan menyenangkan. Namun disini juga guru harus lebih memahami materi yang akan disampaikan dan menguraikannya sesuai dengan sintaks pada model pembelajaran yang digunakan, sehingga peserta didik dapat memahami materi pembelajaran secara utuh. Dan guru harus bisa membuat peserta didik yang kurang aktif menjadi terlibat aktif dalam pembelajaran dan membuat peserta didik yang sudah aktif menjadi lebih bersemangat lagi dalam merespons guru dan temannya dalam pembelajaran secara berkelompok.

Pada saat melaksanakan proses pembelajaran, ada beberapa kendala yang dihadapi dalam implementasi kegiatan pembelajaran inovatif, yaitu guru belum memberikan penjelasan mengenai gambaran aktivitas pembelajaran seperti persiapan mengisi presensi, dan refleksi, sehingga peserta didik kurang siap dengan kegiatan yang akan dilaksanakan. Kemudian guru belum memberikan instruksi lebih lengkap atau contoh dalam pengerjaan LKPD, cara mengidentifikasi dan menetapkan ciri pada tata rias dan busana tradisional. Yang selanjutnya ada beberapa peserta didik yang tidak mengisi presensi dan menuliskan refleksi diakhir pembelajaran.

Jika dilihat dari teknis Pelaksanaan, ada beberapa kendala juga, diantaranya dalam video pembelajaran belum banyak video close up pada pembelajaran yang menyoroti ekspresi peserta didik dan guru. Kemudian ada kendala teknis di bagian audio yang terputus-putus di beberapa bagian. Suara peserta didik kurang terdengar karena tidak ada mic yang dikhususkan untuk peserta didik.

Pada proses pembelajaran ini ada beberapa pihak yang terlibat, diantaranya guru sebagai fasilitator dan pelaksana pembelajaran, yang bertugas untuk mengidentifikasi masalah, memfasilitasi peserta didik dalam belajar dan membantu peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan tersebut terkait dengan proses pembelajaran pada materi konsep makna tata rias dan busana pada tari tradisional. Selain guru ada juga teman sejawat sebagai pihak yang memberikan masukan mengenai pembelajaran yang telah berlangsung dan peserta didik sebagai penerima ilmu pengetahuan yang disampaikan dengan model pembelajaran dan berbagai metode pembelajaran yang inovatif, agar lebih termotivasi, terlibat aktif dan semangat dalam proses pembelajaran.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk menghadapi tantangan meningkatkan motivasi peserta didik, pertama guru harus memberikan pemahaman terhadap peserta didik bahwa materi yang dipelajari memiliki manfaat dalam kehidupan, dengan strategi menjelaskan manfaat pembelajaran dalam kehidupan pada media PPT dan mengevaluasi pembelajaran dan memberikan pemahaman tentang materi yang diajarkan akan berguna di masa depan. Yang kedua guru harus bisa menentukan model pembelajaran dan metode pembelajaran yang tepat, dengan strategi menggunakan model pembelajaranan PBL (Problem based learning) dengan metode ceramah, diskusi, dan game yang meliputi kegiatan mengidentifikasi, menetapkan siri dan menyajikan hasil, diharapkan dapat membantu meningkatkan hasil belajar dan Melaksanakan sintaks model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan tepat yang dimulai dengan orientasi peserta didik kepada masalah, mengorganisasi peserta didik secara heterogen, membimbing diskusi kelompok, membantu peserta didik mengembangkan dan menyajikan hasil di LKPD yang telah dibagikan dan menganalisis serta mengevaluasi proses pemecahan masalah, dan menutup pembelajaran dengan game menjodohkan gambar tata rias dan busana tari tradisional dengan deskripsi ciri tata rias dan busana. Artara Sella Tysha (2020) mengungkapkan bahwa “Model pembelajaran Problem Based Learning adalah metode pembelajaran dimana mempunyai ciri-ciri adanya permasalahan yang dimunculkan guna untuk melatih peserta didik berpikir kritis dan memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah, serta memperoleh pengetahuan. Kemudian metode yang digunakan yaitu diskusi kelompok, tanya jawab, dan penugasan”. Yang ketiga harus meningkatkan literasi guru dalam mempersiapkan materi pembelajaran, dengan strategimembaca buku seni tari kelas X atau buku lainnya yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan, membaca dan mencari informasi tentang materi yang akan diajarkan melalui internet atau media lainnya dan mencari contoh dan memahami video dan foto yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Dan yang terakhir guru harus bisa meningkatkan keaktifan peserta didik dalam merespons guru dan temannya selama pembelajaran dan diskusi kelompok, yaitu dengan strategiguru sering menyapa dan bertanya terhadap siswa yang kurang aktif, guru memberikan reward seperti memberikan pujian terhadap siswa yang aktif dan dilakukan penilaian kelompok dan individu, untuk membuat siswa memiliki target nilai dalam pembelajaran. Najamudin Pettasolong (2017) Mengungkapkan bahwa “Reward merupakan alat pendidikan yang mudah dilaksanakan dan sangat menyenangkan peserta didik, untuk itu reward dalam proses pendidikan sangat dibutuhkan demi meningkatkan motivasi dan prestasi akademik peserta didik”.

Prosesnya pembelajaran yang berkaitan dengan model pembelajaran yang akan diterapkan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terdiri dari 5 sintaks pembelajaran, yaitu Orientasi peserta didik pada masalah, Mengorganisasi peserta didik untuk belajar, Membimbing penyelidikan secara individu dan kelompok, Mengembangkan dan menyajikan hasil karya dan Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Adapun sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini diantaranya Modul Ajar, Bahan ajar yang disusun dengan semenarik mungkin dan disesuaikan dengan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK), pemanfaatan TIK dalam bentuk PPT (media ajar) yang ditampilkan melalui smart TV, LKPD dalam proses pembelajaran, kertas Game menjodohkan dan Instrumen penilaian formatif, penilaian sikap dan refleksi guru dan peserta didik dan situs pembelajaran My LMS Telkom School dan Google Form.

Setelah aksi praktek pembelajaran inovatif dilaksanakan maka ada dampak yang ditimbulkan, diantaranya Peserta didik lebih bersemangat dan lebih aktif dalam pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, dan peserta didik memahami pentingnya pembelajaran yang dilakukan karena berkaitan dengan masa depannya dilihat dari nilai pada penilaian sikap sudah meningkat, semua peserta didik sudah mendapatkan nilai keaktifan di atas kkm. Kemudian dengan adanya penggunaan media berbasis TPACK yang diperbantukan dengan power point, video, google form dan My LMS Telkom School membuat peserta didik lebih mudah memahami pembelajaran karena sumber belajar bervariatif dan mudah dipahami dilihat dari peserta didik yang memperhatikan dan merespons guru saat bertanya. Selain itu penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) membuat peserta didik lebih termotivasi untuk belajar karena didalam sintak PBL sudah terdapat langkah pembelajaran yang mengarah kepada pembelajaran yang berpusat kepada siswa sehingga meningkatkan keaktifan dan motivasi siswa dalam pembelajaran dibandingkan dengan menggunakan metode konvensional yang selama ini sering digunakan. Hal ini terlihat dari hasil LKPD yang tepat, penilaian sikap peserta didik yang sudah diatas kkm dan refleksi  yang diisi oleh peserta didik menunjukan peserta didik sudah memahami materi yang diajarkan dan penggunaan model pembelajaran PBL juga membuat peserta didik lebih memahami materi dikarenakan peserta didik diminta untuk melakukan analisis terhadap masalah yang diberikan sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dilihat dari peserta didik sangat antusias dan merespons temannya, baik dalam diskusi, presentasi maupun game.

Aksi yang telah dilaksanakan dengan menerapkan model pembelajaran dan metode yang terpilih menunjukkan hasil yang efektif, dan akan lebih baik lagi saat dilakukan secara berulang. Keefektifan tersebut terlihat pada hasil belajar peserta didik yang telah dianalisis dan hasil observasi guru selama proses pembelajaran, yaitu materi yang telah disampaikan sudah difahami peserta didik dan telah tercapainya tujuan pembelajaran dibuktikan dari peserta didik dapat mengerjakan LKPD dengan tepat. Kemudian terjadi peningkatan motivasi peserta didik dilihat dari antusias peserta didik ketika memperhatikan pembelajaran di kelas merespons guru dan temannya, mengisi LKPD dengan baik, dan terlibat aktif dalam diskusi, menyampaikan pendapat, menyelesaikan permainan dan presentasi di kelas. Selain itu terjadi peningkatan kemampuan peserta didik dalam berpikir kritis dalam berdiskusi dan menyelesaikan LKPD. Berdasarkan hasil penilaian sikap, ada beberapa point penilaian yang berlandaskan pada Profil Pelajar Pancasila, diantaranya beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. bernalar kritis dan bergotong royong. Dari penilaian tersebut terhitung peserta didik yang memperoleh predikat A (93-100) berjumlah 15 peserta didik dan predikat B (83-92) berjumlah 21 peserta didik . Dilihat dari penilaian formatif yang meliputi penilaian LKPD, diskusi dan hasil presentasi terdapat beberapa penilaian, diantaranya, ketepatan isi LKPD, keaktifan dalam diskusi (memberikan ide, masukan, terlibat dalam pengerjaan tugas), hasil presentasi (kejelasan suara dan ketepatan hasil mengidentifikasi dan menetapkan ciri tata rias dan busana tari tradisional), dan ketepatan menjodohkan pasangan gambar dengan deskripsi ciri tata rias dan busana tari tradisional. Hasil yang diperoleh, peserta didik yang mendapatkan predikat A (93-100) berjumlah 17 peserta didik dan yang mendapatkan predikat B (83-92) berjumlah 19 peserta didik. Sedangkan dari penilaian refleksi peserta didik terhadap guru sudah menggambarkan proses pembelajaran berjalan dengan baik dan sudah mencapai tujuan pembelajaran. Jadi dapat disimpulkan bahwa guru sudah cukup baik dalam mengajar meliputi penguasaan materi pada saat melaksanakan pembelajaran inovatif dengan materi konsep tata rias dan busana tradisional, pengelolaan kelas dan penampilan pada saat mengajar dinilai sudah rapi.

Faktor yang menyebabkan keberhasilan pelaksanaan aksi diantaranya meliputi faktor Internal dan Eksternal. Dilihat dari faktor internaldalam melakukan pembelajaran, saya berusaha untuk memberikan pembelajaran yang terbaik bagi peserta didik agar masalah belajar yang dialami peserta didik dapat teratasi sedikit demi sedikit seiring dengan dilakukannya pembelajaran inovatif secara berulang. Saya juga dalam menerapkan model pembelajaran PBL dan metode pembelajaran inovatif dengan ceramah, diskusi, presentasi dan game di dalamnya yang harus berorientasi kepada HOTS dan sebisa mungkin melakukan pembelajaran yang menyenangkan untuk peserta didik, agar motivasi dan hasil belajar peserta didik dapat lebih meningkat dalam materi konsep makna tata rias dan busana pada tari tradisional. Adapun faktor eksternal pada proses pembelajaran ini diantaranya:

  1. Kepala Sekolah : senantiasa memberikan dukungan dan selalu memfasilitasi guru untuk mengikuti kegiatan PPG, agar dapat menjadi guru yang lebih baik lagi.
  2. Peserta Didik : memiliki keinginan untuk memahami pelajaran yang disampaikan sebagai bekal di masa depan
  3. Rekan Sejawat di Unit Kerja : senantiasa memberikan dukungan dan motivasi dalam mengikuti kegiatan PPG, salah satunya adalah dengan menjadi sumber informasi dalam pembelajaran seni tari.

VI. Kesimpulan

Melalui pembelajaran inovatif pada materi konsep makna tata rias dan busana pada tari tradisional dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan metode ceramah, diskusi dan game dapat disimpulkan bahwa guru sudah cukup baik dalam mengajar meliputi penguasaan materi pada saat melaksanakan pembelajaran inovatif dengan materi konsep tata rias dan busana tradisional, hasil yang diperoleh peserta didik keseluruhan sudah mencapai KKM dan pengelolaan kelas dan penampilan pada saat mengajar dinilai sudah rapi sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Adapun Pembelajaran (Lesson Learned) dari keseluruhan proses yang sudah dilaksanakan diantaranya, guru harus selalu memberikan pengajaran yang terbaik kepada peserta didik dengan cara selalu melakukan perbaikan evaluasi dan refleksi dalam pembelajaran, hal tersebut dapat dicapai dengan cara guru meningkatkan kemampuan kompetensi dalam mengajar agar sesuai dengan kebutuhan zaman. Guru juga harus mengetahui karakteristik peserta didik dan cara belajar yang disukai oleh peserta didik. Selain itu guru juga harus mampu memfasilitasi peserta didik dan memberikan kemudahan dalam kegiatan belajar mengajar dan selalu melakukan pembelajaran inovatif secara rutin agar dapat menyelesaikan masalah pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kristianti, Yuliana. 2015. Faktor-Faktor Penghambat Dalam Pembelajaran Seni Tari di SMP Negeri 1 Patuk Gunungkidul: JURUSAN PENDIDIKAN SENI TARI FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA.
  2. Kristanto, Alfa. 2017. MEMAHAMI PARADIGMA PENDIDIKAN SENI: Jurnal Abdiel.
  3. Kusumastuti, E. (2014). Penerapan Model Pembelajaran Seni Tari Terpadu Pada Siswa Sekolah Dasar: Mimbar Sekolah Dasar, 1(1), 7–16.
  4. Pettasolong, Najamudin. 2017.IMPLEMENTASI BUDAYA KOMPETISI MELALUI PEMBERIAN REWARD AND PUNISHMENT DALAM PEMBELAJARAN. https://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/tjmpi/article/view/388.
  5. Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
  6. Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
  7. Tysha, Artara Sella dan Warih Handayaningrum. 2020. PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN SENI TARI DI SMAN 8 MALANG: Jurnal Pendidikan Sendratasik, Vol. 9 No. 1. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-pendidikan-sendratasik/article/view/45670
  8. Ufriani. 2018. PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR SENI TARI SISWA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA DI KELAS VII A SMP NEGERI 2 LILIRILAU KABUPATEN SOPPENG: Program Pendidikan Sendratasik Fakultas Seni Dan Desain Universitas Negeri Makassar.
Categories
Tak Berkategori

SELAMAT MELAKSANA #PSAS

Kegiatan Penilaian Sumatif Akhir Semester sedang dilaksanakan dari tanggal 5 Desember hingga 11 Desember 2023

Selamat Melaksanakan PSAS, Lakukan yang terbaik untuk hasil yang maksimal

Categories
Tak Berkategori

SELAMAT HARI GURU NASIONAL

Selamat Hari Guru!
Hari Guru adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan rasa terima kasih yang tulus kepada semua guru yang telah memberikan pengetahuan, dukungan, dan cinta kepada kita.

untuk informasi PPDB bisa menghubungi
☎️Admin 1 : +62 813-2229-9010 (WA)
☎️Admin 2 : +62 813-9887-7234 (WA)
☎️Admin 3 : +62 821-1649-7877 (WA)

Atau klik smatelkombandung.sch.id

Terima kasih banyak untuk kejutan indahnya siswa siswi hebat kebanggaan SMA Telkom Bandung
Categories
Tak Berkategori

PERLOMBAAN ISLAMI TINGAKT SMP/Mts Sederajat Se Jawa Barat

A recap from #myfest2023 ! Terimakasih untuk 124 sekolah dan 779 peserta SMP/Mts sederajat Sejawa barat yang telah berpartisipasi. Sampai jumpa di #myfesf2024

Come and join us

Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi
☎️Admin 1 : +62 813-2229-9010 (WA)
☎️Admin 2 : +62 813-9887-7234 (WA)
☎️Admin 3 : +62 821-1649-7877 (WA)

Atau klik smatelkombandung.sch.id

Categories
Tak Berkategori

PRESTASI TERKINI

Hi #genbiru Siapa nih yang udah gak sabar denger info presentasi terkini dari siswa siswi hebat SMA TELKOM BANDUNG ?!
Berikut info prestasi keren nya
1 .Juara 1/Medali Emas
Sonia Talita U Siburian- kejuaraan Taekwondo UIN Championship Tingkat Nasional

  1. English speech contest Se Bandung Raya
    -Juara 1 – Arsyila Syaza Aurelia
    -Juara 3 Alisha kalifa azmi
    -Juara Harapan 1 Marsha Malika
  2. Juara 2 Tim Basket SMA TELKOM BANDUNG – BANDUNG BASKETBALL LEAGUE

Selamat dan sukses untuk siswa siswi hebat!!
Jangan patah semangat dan torehkan selalu presentasi kalian karena tidak ada kata terlambat untuk berani mencoba dan menjadi yang terbaik .

untuk informasi PPDB bisa menghubungi
☎️Admin 1 : +62 813-2229-9010 (WA)
☎️Admin 2 : +62 813-9887-7234 (WA)
☎️Admin 3 : +62 821-1649-7877 (WA)

Categories
Tak Berkategori

PRESTASI TERKINI

Hai sobat genbiru!
Alhamdulillah, siswa-siswi hebat SMA Telkom Bandung berhasil menyabet berbagai perlombaan nih.

  1. Juara 1 Lomba Tari Kreasi Nusantara (Transmart Menari)
  2. Juara 3 Lomba Band Indie Festival Pelajar Nusantara
  3. Pekan Olahraga Tuggal Event Cabor (Portue) Taekwondo
    Semangat selalu dalam meraih prestasi terbaik!
Categories
Tak Berkategori

Audit Mutu Internal Implementasi ISO 21001

Halo sobat #Genbiru! Kali ini, SMA Telkom Bandung melaksanakan kegiatan Audit Mutu Internal Implementasi ISO 21001. Kegiatan tersebut dilakukan meliputi seluruh bidang dan berjuan meningkatkan mutu serta kualitas yang ada di sekolah kita loh!

Categories
Tak Berkategori

JUARA RUBRIKA TINGKAT JAWA BARAT #prestasikami

Sobat #Genbiru, ada info penting nih! Alhamdulillah SMA Telkom Bandung menambah prestasi nih. Kali ini dari Tim Paskibra yang berhasil menjurai berbagai lomba Rukibra Tingkat Provinsi Jawa Barat, diantaranya:

  1. Juara Utama Rukibra (Pasukan B) Lomba Rukibra Tingkat Provinsi Jawa Barat.
  2. Juara Caraka Rukibra (Pasukan A) Lomba Rukibra Tingkat Provinsi Jawa Barat.
  3. Juara 2 Kibra Terbaik Lomba Rukibra Tingkat Provinsi Jawa Barat.
    Keren banget kan?!
Categories
Tak Berkategori

PANEN KARYA P5 IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA

Pada hari kamis tanggal 5 Oktober 2023 kami melakukan PANEN KARYA atau gelaar karya dari hasil Pengimplementasian kurikulum merdeka di Triwulan Pertama ini. Kegiatan ini berupa pagelaran karya dari siswa-siswi SMA Telkom Bandung kelas X tahun pelajaran 2023/2024 dengan tema Rekayasa Teknologi dan Kewirausahan, acara ini dibuka langsung oleh Bapak Kepala SMA Telkom Bandung dan dinilai secara hasil oleh seluruh civitas akademika SMA Telkom Bandung dengan penilaian proses yang sudah dilakukan sebelumnya oleh Para Wakil Kepala.

Berikut Sekilas hasil Karya #siswasiswihebat SMA Telkom Bandung pada Panen Karya Kali ini. ‘

Categories
Tak Berkategori

PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Sobat #Genbiru!
Kegiatan kali ini, kita memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. Semoga beliau selalu menjadi tuntunan dan suri teladan kita dalam menjalani kehidupan ini.

Lantunan salawat menambah kekhyusukan kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw yang mudah-mudahan menambah keberkahan untuk kita semua